BREAKING NEWS

Tuesday, 19 September 2017

Bahan Nuklir Terbaik Indonesia, Ditemukan di Mamuju Sulawesi Barat



Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memperkirakan terdapat cadangan 70 ribu ton Uranium dan 117 ribu ton Thorium yang tersebar di sejumlah lokasi di Indonesia, yang bisa bermanfaat sebagai energi alternatif di masa depan!

Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir (PKN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), DR Yus Rusdian Ahmad menyebut,  sumber kandungan Uranium terbaru saat ini ditemukan di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Seluas 800 KM persegi. Kandungan Uranium di kawasan itu merupakan salah satu jenis terbaik di Indonesia.

“Radioaktifnya jauh lebih tinggi dari Jawa dan daerah lain di Indonesia, kandungan Uranium dengan luasan seperti itu baru kita temukan disini” Ungkap Yus Rusdian.

Sumber Uranium itu dari fenomena gunung api, yang berpusat di sejumlah desa yang berada di Wilayah bukit desa Takandeang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Ditemukan terdapat potensi mineral radioaktif antara 2.000 dan 3.000 nsw per jam. Radioaktif yang ditimbulkan dianggap masih sangat aman bagi masyarakat yang bermukim di sejumlah wilayah tersebut.

Kajian terakhir dilakukan di Mamuju, Sulbar, dimana deteksi pendahuluan menyebut kadar Uranium di lokasi tersebut berkisar antara 100-1.500 ppm (part per milion) dan Thorium antara 400-1.800 ppm.

Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir Bapeten Dr. Khoirul Huda mengatakan, Bapeten sementara sedang melakukan penelitian potensi uranium di Mamuju yang diperkirakan memiliki kandungan uranium sangat tinggi sehingga dilakukan penelitian lebih mendalam.

“Hasil penelitian yang telah kami lakukan menyimpulkan Mamuju adalah daerah tertinggi radio aktifnya di Indonesia. Ini menunjukan ada potensi uranium di daerah Mamuju,” ujarnya.

Kepala Biro Hukum dan Organisasi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) menyebutkan potensi uranium ataupun torium Di Kabupaten Mamuju perlu mendapatkan perhatian nasional dan daerah agar lebih ketat lagi dalam memberikan izin penambangan, khususnya di lokasi yang dinyatakan mengandung radiasi alam yang tinggi.

Berdasarkan Undang-Undang No 10 Tahun 1997 tentang ketenaganukliran, penambangan bahan galian nuklir hanya dilakukan oleh badan pelaksana untuk tujuan non komersil.

Sebagian besar cadangan Uranium Indonesia kebanyakan berada di Kalimantan Barat, sebagian lagi ada di Papua, dan Bangka Belitung. Sedangkan Thorium kebanyakan di Babel dan sebagian di Kalbar.

Referensi :
1. Sains technology (Ita)
2. Lensapena.com/ Lukman Rahim

Saturday, 16 September 2017

Kampanye "Rokok Membunuhmu" akan Membunuh Indonesia

Pemerintah RI pada masa pemerintahan Sukarno, pernah mengutus KH agus Salim dan Sri Pakualam VIII dalam sebuah forum internasional di Inggris. Pangeran Philip yang masih muda tampak canggung menghadapi para tamu yang kebanyakan lebih tua. Menyadari hal itu, KH Agus Salim, sang diplomat yang menguasai 8 bahasa asing mendekati Pangeran Philip seraya menghisap rokok kreteknya. Ia bertanya, “Apakah anda mengenal bau ini?”, tanyanya sambil menghembuskan asap kreteknya. Pangeran Philip menjawab ragu dengan senyum formal yang kaku. K.H Agus Salim berkata, ” Aroma inilah yang menyebabkan bangsa anda rela menyeberangi lautan untuk mendatangi negeri saya”.
Tembakau merupakan salah satu komoditas yang penting di dunia dan merupakan produk bernilai tinggi. Bagi beberapa negara, termasuk Indonesia, industri ini menjadi salah satu sumber devisa yang menunjang perekonomian nasional. Tembakau adalah ciri khas Indonesia dan menjadi salah satu bagian utama kualitas rempah terbaik di dunia. Tembakau menghidupi puluhan juta masyarakat Indonesia dan menjadi sumber devisa negara yang sangat menggiurkan.
Ketika bangsa Eropa mulai menginvasi negara-negara di Asia, pertarungan politik bisnis internasional menyebabkan Indonesia harus kehilangan kekayaan negeri sendiri. Semua sumber daya alam Indonesia yang dilindungi selama berabad-abad oleh budaya leluhur kini menjadi incaran kapitalis. Kampanye internasional pun menjadi senjata.
Indonesia yang pernah berjaya dengan produksi minyak mandar yang kini telah diluluh lantakkan dengan bombardir minyak sayur. Minyak mandar atau lomo mandar, dihancurkan dengan isu bahwa kualitas minyaknya tidak baik untuk kesehatan oleh Amerika. Daratan Sulawesi di tahun 1960-an adalah hamparan pulau kelapa yang menjadi tambang hidup rakyat. Tanaman kelapa sering disebut emas hijau berkibar-kibar di sepanjang jazirah Sulawesi, hingga tiba badai jatuhnya harga kopra dunia di tahun 1980 akibat derasnya kampanye perang anti kelapa. Pada tahun 90-an, Amerika dengan getol mengampanyekan betapa berbahayanya minyak kelapa bagi kesehatan. Sebagai gantinya diperkenalkanlah minyak kedelai (produksi Amerika dan korporasinya) yang lebih bersahabat dengan kesehatan. Bangsa Indonesia yang sudah berabad-abad menggunakan minyak kelapa akhirnya takluk, industri minyak kelapa pun hancur, terkubur bersama dengan matinya kearifan lokal.
Hal yang sama terjadi pada gula. Tahun 1930-an, Indonesia adalah produsen gula nomor dua dunia di bawah Kuba. Sejak International Monetary Fund (IMF) datang ke Indonesia tahun 1998, memaksa pemerintah melepas tata niaga komoditinya, termasuk gula, maka gula impor pun membanjir.
Hal itu juga mulai kembali diberlakukan pada rokok kretek, lewat WHO, WTO dan pemerintahan Indonesia soal bahaya nikotin tinggi. Industri tembakau yang memang berjalan lamban, mulai mengikuti jejak matinya kopra, gula, garam dan berbagai komoditi berharga lainnya. Tembakau kini kian tersisih peredarannya seiring dengan aneka “beleid” baru yang membatasinya. Tak lama setelah Soeharto jatuh tahun 1999, menyeruaklah isu perlunya pembatasan kadar kandungan tar dan nikotin.
Dengan berlindung di balik isu kesehatan, beleid pembatasan tembakau akhirnya disahkan tahun 2009. Industri rokok kretek terpukul, sementara rokok putih diuntungkan. Dengan slogan “low tar, low nicotin”, rokok kretek sempoyongan, sementara rokok putih yang menggunakan tembakau Virginia masih di atas angin, Padahal selama ratusan tahun rokok putih tak pernah bisa menggeser rokok kretek.
Kampanye anti tembakau sesungguhnya bermula dari persaingan bisnis nikotin antara industri farmasi dengan industri tembakau di Amerika Serikat. Perusahaan farmasi berkepentingan menguasai nikotin sebagai bahan dasar produk Nicotine Replacement Therapy (NRT).
Di dalam negeri ada dua sisi bertolak belakang. Di satu sisi kebijakan anti tembakau sukses besar. PP tembakau sudah direvisi berkali-kali, puluhan perda anti tembakau, UU Kesehatan dan RPP Pengamanan Produk Tembakau sebagai zat adiktif sedang digodok, sementara di sisi lain impor tembakau meningkat tajam.
Tahun 2003 sebesar 29.579 ton naik menjadi 35.171 ton di 2004. Hingga 2008 mencapai 77.302 ton. Dalam waktu lima tahun ada kenaikan 250 persen. Impor cerutu juga naik. Rata-rata kenaikan 197,5 persen per tahun. Tahun 2004 impor cerutu masih US$ 0,09 juta, di tahun 2008 naik menjadi 0,979 juta.
Philips Morris mencaplok Sampoerna tahun 2005 dan BAT mengakuisi Bentoel (2009). Sejak itu pula, perusahaan farmasi yang menjual terapi rokok juga kian populer di Indonesia. (Industri kretek yang masih berada di tangan pihak Indonesia adalah Djarum, Gudang Garam, Djeruk dari daerah Kudus, Wismilak.)
Iklan “ROKOK MEMBUNUHMU” hadir Melalui Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012. Semangat kampanye anti rokok (kretek) ini jelas menghancurkan industri kretek nasional dan pastinya untuk digantikan oleh rokok putih milik Phillip Morris dan BAT, dll.
Kampanye ” ROKOK MEMBUNUHMU” Di Sponsori oleh Bloomberg Initiative, sebuah lembaga berkedudukan di Amerika Serikat. Bloomberg Initiative mengumumkan bahwa lembaga itu menyeponsori (Membiayai) ilmuwan, kaum profesional, lembaga penelitian, lembaga yang mengamati produk dan kenyamanan hidup masyarakat yang membelinya, juga, termasuk, menyeponsori lembaga keagamaan, agar membuat fatwa haram atas rokok, maka jelas bahwa ada sesuatu tingkah laku yang mencerminkan keserakahan global.
Mengapa Industri kretek menjadi sasaran Amerika?
Kekuatan industri kretek itu setidaknya karena beberapa hal.
Pertama, tumbuh berkembang dan bertahan selama berabad-abad tanpa ketergantungan modal pada negara maupun investasi.
Kedua,menggunakan hampir 100% bahan baku dan konten lokal.
Ketiaga, terintegrasi secara penuh dari hulu ke hilir dengan melibatkan tak kurang dari 30,5 juta pekerja langsung maupun tak langsung.
Keempat, industri melayani 93% pasar lokal. Dengan karakter sekokoh itu, tak ayal industri kretek menjadi salah satu prototipe kemandirian ekonomi nasional.
Penggiat ekonomi sekaligus Presidium Insitute Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng mengatakan, dominasi perusahaan besar soal tembakau sangat besar. “Ketika industri tembakau dalam pasar internasional berkembang pesat, di dalam negeri malah ingin dihancurkan,” kata Daeng. Menurutnya, hingga saat ini negara maju seperti Amerika dan Eropa masih mensubsidi pertanian tembakaunya. “Subsidi Amerika banyak sekali untuk industri tembakanya, sampai ke asuransi gagal panen. Eropa juga mensubsidi tanaman tembakaunya. Di dalam negeri justru dimatikan dengan peraturan pemerintah hingga perda,” tandasnya.
mediasi: Maskur Makkasau/ referensi: Syarifuddin / gambar: inditourist

Thursday, 14 September 2017

Kenapa Sidrap disetujui Membangun Listrik Tenaga Angin?


Solusi pemenuhan energi dengan pengembangan energi terbarukan yang selama ini dikampanyekan pemerintah, akhirnya bisa direalisasikan secara total di Sulawesi Selatan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di kabupaten Sidrap. Kehadiran PLTB Sidrap bisa dipastikan sebagai PLTB pertama di Indonesia.

Sejak pertengahan bulan September 2017, properti utama listrik tenaga angin berupa kincir, tiba di pelabuhan Kota Parepare. Ratusan bilah kincir angin raksasa berukuran panjang 56 meter diangkut dengan susah payah ke lokasinya di Sidrap, lantaran sarana jalan perkotaan yang kecil dan padat. Sebelumnya pada bulan Agustus lalu, tower penopang kincir dan turbinnya juga sudah terkirim ke lokasi. Semua material equipmen didatangkan langsung dari Spanyol.

Kabupaten Sidrap menjadi baromenter pembangunan listrik tenaga angin pertama dan terbesar di Indonesia adalah hasil terobosan ide cemerlang dari sang Bupati, Rusdi Masse. Sebagai putra daerah, Rusdi telah memahami karakter Sidrap yang letaknya berada pada titik transisi angin dari 4 kabupaten yang mengelilinginya. Selain itu, Sidrap memiliki hamparan pedataran paling luas di Sul-sel yang menjadi media bertemunya angin laut dari kota Parepare dan angin pegunungan dari dataran tinggi Enrekang.

Letaknya yang strategis menjadikan Sidrap ibarat bendungan angin yang menyimpan energi yang besar. Potensi sumber daya itulah yang memuluskan rencana pembangunan PLTB Sidrap disetujui sepenuhnya oleh pemerintah pusat.

PLTB Sidrap memiliki 30 turbin angin berkapasitas total 75 Megawatt (MW) dengan kapasitas per turbin hingga 2,5 MW, dibangun di Desa Mattirotasi, Kecamatan Wattang Pulu.

Ditargetkan beroperasi 2018 dengan investasi totalnya US$150 juta , oleh perusahaan asal Amerika Serikat (AS), UPC Renewables. Selain daya listriknya diharapkan dapat memenuhi 70 ribu KK, PLTB Sidrap juga menampung ribuan tenaga kerja lokal.

Pembangunan LPTB di Indonesia setelah Sidrap akan berlanjut ke kabupaten Jeneponto dan Selayar Sulawesi Selatan kemudian Jogjakarta Jawa Tengah.

Wednesday, 13 September 2017

Terungkapnya Hubungan Kekerabatan Orang Makassar dan Suku Aborigin Australia

Jenis perahu yang digunakan pelaut Makassar datang pertama kali di Australia utara.

Penelitian panjang Dr. Steven Farram, seorang ahli sejarah Australia dan ASEAN dari Charles Darwin University (CDU) mengungkap hubungan peradaban Makassar dan suku Aborigin Australia. Hasil penelitian Farram menjelaskan sejarah pelaut Makassar yang datang ke Arnhem, Australia Utara jauh lebih dahulu dibanding orang Eropa. Para pelaut Makassar menyebut daratan suku Aborigin ini dengan istilah Marege. Tujuan kedatangannya pun beda, pelaut Makassar datang untuk berdagang, sedang pelaut Eropa datang untuk menetap dan mengasingkan penduduk asli.

Hubungan pelaut Makassar dengan orang Marege (Aborigin) yang sudah berlangsung ratusan tahun, meninggalkan jejak interaksinya yakni salah satunya, dari segi bahasa. Ada 500-an serapan bahasa Makassar yang mudah dilacak saat ini dalam kosa kata bahasa Marege.

Komunitas suku Aborigin di Arnhem menyebut orang Makassar dengan sebutan Macassan. Pelaut Makassar pertama kali datang di pantai utara Northern Territory (NT) dengan perahu untuk mencari teripang.

Dr. Farram menjelaskan bahwa orang-orang Makassar menjelajah ke pantai utara Australia, di antaranya di Pulau Tiwi dan Arnhem Land. Arnhem Land kini menjadi salah satu dari 5 wilayah Northern Territory, 500 km dari ibukota NT, Darwin.

Selain di dua wilayah itu, orang Makassar juga berkelana hingga Cobourg Peninsula hingga di sepanjang pantai utara NT bahkan menjelajahi laut perbatasan NT dan Queensland.

Ditambahkan Dr. Farram, selain berdagang dengan cara barter, orang Makassar membangun hubungan harmonis dengan orang Aborigin dengan mengenalkan berbagai peralatan, ilmu membuat perahu dan bahasa. Tidak terhitung budaya yang ditinggalkan orang Makassar kepada Aborigin. Hal itu terlihat dari jejak lukisan batu orang Aborigin.

Literatur yang mengurai sejarah hubungan budaya orang Makassar dan Aborigin.

Menurut Paul Scott Clark, seorang kurator Museum dan Galeri Seni Northern Territory mengatakan, pengaruh Makassar tampak dalam motif segitiga yang sering digunakan untuk rajah tubuh (tatto) orang Aborigin. Motif segitiga itu, merupakan motif kain orang Makasar yang digunakan untuk gambar sarung mereka.

Saudagar Makassar yang datang adalah kaum muslim pertama yang datang ke benua Australia. Namun pengaruh Islam tidak mengganggu keyakinan orang Aborigin.

"Pengaruh Islam sangat minor, dari konteks ini. Macassan datang sebagai pedagang mengumpulkan materi, dan mereka tak mencoba untuk mengubah keyakinan atau agama warga lokal," jelas Dr. Farram.

Atas hubungan saling respek dan saling menguntungkan antara Aborigin dan orang Makassar, maka Aborigin 'mengawetkan' kenangan itu melalui ingatan komunal yang diturunkan dari generasi ke generasi. Caranya, bukan melalui budaya tulisan melainkan lisan alias oral. Budaya lisan Aborigin sangat kuat. Sehingga mereka mewariskannya melalui cerita yang dituturkan dari orangtua ke anak, melalui lukisan di batu-batu, menyerap bahasanya, melalui tari-tarian dan nyanyi-nyanyian, serta menjadi inspirasi dalam ritual upacara.

"Ingatan akan orang Macassan bisa ditemukan di lagu, dan dalam tarian. Banyak ritual yang berhubungan dengan kedatangan orang Macassan," papar Dr. Farram.

Meski orang Makassar sudah berhenti mengunjungi orang Aborigin sekitar tahun 1907, generasi muda Aborigin masa kini masih mengetahui dengan baik kisah kedatangan orang Makassar itu.

Baca selengkapnya :
http://m.radioaustralia.net.au/indonesian/2015-11-12/dari-kata-balanda-hingga-rupiah-warisan-makassar-di-australia/1513390

Rumah Adat Mamasa dan Toraja: Serupa tapi tak Sama


Mamasa merupakan salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Barat yang merupakan wilayah pegunungan dengan berbagai pesona budaya dan alamnya yang unik. Kota kabupaten ini terletak di kota Mamasa berjarak 340 Km sebelah utara dari Kota Makassar atau 290 Km sebelah tenggara Kota Mamuju sebagai Ibu Kota Propinsi Sulawesi Barat. Sepanjang wilayah bagian timurnya berbatasan dengan Tana Toraja.

Di kabupaten Mamasa, nilai-nilai adat dan tradisi masih sangat kuat dan lestari dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Sepintas, tata cara dalam adat tradisi Mamasa nyaris mirip dengan adat Toraja karena sama-sama menganut paham yang disebut Aluk Todolo (Ajaran Nenek Moyang) yang animisme. Kendati memiliki persamaan budaya, eksistensi Mamasa sangat jauh jika dibandingkan dengan popularitas Tana Toraja yang sudah mendunia. Bahkan sebagian orang berpendapat bahwa tradisi Mamasa (yang diketahui) adalah replika Tana Toraja dan cenderung dimirip-miripkan. Padahal realitanya tidak seperti itu, Mamasa punya karakter tradisinya sendiri yang jika diketahui dengan baik, jelas memiliki ciri khas yang pada dasarnya berbeda dengan Tana Toraja.

Salah satu budaya yang kemiripannya sangat menonjol adalah konstruksi rumah adatnya. Pada umumnya bentuk rumah adat Mamasa memiliki persamaan dengan rumah (Tongkonan) di Kabupaten Tana Toraja dari segi bentuk, syarat dan latar belakang sejarah pendiriannya. Hal ini sangat memungkinkan karena menurut hasil kajian sejarah bahwa keduanya berasal dari satu rumpun nenek moyang. Rumah adat tertua yang tersebar di Tana Toraja, utamanya di wilayah tua Sangalla, pada umumnya memiliki bentuk natural mirip dengan rumah adat pada umumnya yang ada di Mamasa. Konstruksi rumah adat Toraja saat ini dinilai sudah mengalami pergeseran bentuk terutama pada bentuk atapnya yang dibuat lebih tinggi meruncing keatas.

Seiring perkembangan jaman, terjadi perbedaan-perbedaan yang spesifik dari corak, ragam dan hias dari masing-masing rumah adatnya. Perbedaan yang paling menonjol yaitu Rumah Adat Mamasa menggunakan bahan baku yang dominan material kayu, sedang di Toraja, beberapa bagian konstruksinya menggunakan bambu khususnya rumah adat yang dibuat saat ini.


Di Toraja, rumah adatnya disebut Tongkonan, sedang di Mamasa disebut Banua. Hiasan pelengkap utamanya juga sangat berbeda. Di Toraja setiap tiang terdapat patung kerbau yang melambangkan kemakmuran dan kekayaan. Sedangkan tiang utama rumah adat Mamasa tidak menjadikan patung kerbau sebagai simbol utama, tapi menggunakan patung kuda sebagai lambang keperkasaan. Hiasan patung kuda biasanya ditemukan pada jenis rumah Banua Bolong. 

Terdapat pula jenis rumah adat Mamasa yang memasang hiasan berupa tengkorak rahang Anjing yang dipasang berjejer sepanjang tingkap atap dan hiasan tanduk kerbau ditiang rumah. Sedang rumah adat Toraja, yang terpasang hanya tanduk kerbau saja.

Berbeda dengan rumah adat Toraja yang perbedaan bentuknya lebih berdasarkan pada fungsi dan wilayah. Jenis tingkatan rumah adat Mamasa lebih sederhana spesifikasinya. Modelnya terdiri dari beberapa jenis sesuai dengan kasta pemiliknya, antara lain :

1. Banua Layuk 
Konstruksi rumah jenis ini berukuran besar dengan atap yang tinggi. Dindingnya sarat dengan ukiran. Rumah ini hanya boleh dimiliki oleh pemangku adat atau pemimpin dalam masyarakat. Kata banua berarti rumah dan layuk berarti tinggi, sehingga banua layuk berarti rumah tinggi, baik bentuknya maupun status penghuninya yang merupakan bangsawan atau penguasa. Rumah ini memiliki empat sampai lima kamar utama, kadang-kadang ada ruangan santai di depan rumah, dan dilengkapi dengan sejulah lumbung padi (alang pare) yang berada di depan dan di samping rumah. Khusus rumah semacam ini, ada pula kamar rahasia (tambing buni) yang hanya dihunioleh suami istri dan anak yang masih kecil dari penguasa hadat dan juga sering digunakan untuk melakukan pembicaraan rahasia empat mata kedua pemimpin yang sedang berunding.

2. Banua Sura’
Jenis rumah Mamasa yang dilengkapi dengan ukiran, tetapi tidak setinggi banua layuk. Kata sura’ berarti ukir. Rumah ini dihuni oleh bangsawan, baik pemimpin atau penguasa hadat maupun bangsawan tinggi lainnya dan memiliki empat kamar atau lebih, dilengkapi dengan ruang santai di depan rumah serta memiliki lumbung padi.

3. Banua Bolong 
Rumah adat yang warnanya domnan hitam. Kata bolong berarti hitam. Rumah ini dihuni oleh orang pemberani (ksatria) dan sangat berpengaruh dalam masyarakat. Rumah ini memiliki empat kamar atau lebih. Terdapat serambi depan rumah dan dilengkapi lumbung padi.

4. Banua Rapa’ 
Jenis rumah Mamasa dengan warna natural (tidak diukir dan tidak berwarna). Jenis rumah ini dimiliki oleh masyarakat biasa yang dilengkapi dengan penyimpan padi yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat (talukun).

5. Banua Longkarrin 
Jenis rumah adat Mamasa dimana konstruksi tiang paling bawahnya bersentuhan dengan tanah yang hanya dialasi kayu (longkarrin). Rumah ini dimiliki oleh masyarakat biasa.


Referensi : 
BPCB Makassar

Ada Kesepakatan dibalik Penggusuran Asrama Latimojong Bogor.


Asrama Latimojong yang selama ini menjadi asrama mahasiswa dan pelajar Sulawesi Selatan di Bogor Jawa Barat, akhirnya dibongkar paksa oleh pihak berwenang, Rabu 13 September 2017. Aparat mengawal ketat pembongkaran dan pengosongan asrama tersebut.

Sebelumnya sudah pernah terjadi bentrokan keras yang terjadi pada bulan April 2017 antara aparat Pemda Bogor dan ratusan mahasiswa Sulsel yang berusaha untuk mempertahankan asrama yang mereka nilai sebagai aset Pemprov Sulsel.

Penyerbuan aparat kepolisian saat penggusuran

Asrama Latimojong sudah menjadi asrama mahasiswa asal Sulawesi Selatan sejak tahun 1958. Asrama berupa wisma tersebut milik pemerintah provinsi Sulawesi Selatan NO.538/5928 tgl 29 oktober 2007 yang menyatakan asrama mahasiswa itu menjadi hak milik dengan nomor aset 11.22.00.35.57.06/06.02.05.01.00.02 menjadi penguat kepemilikan aset daerah.

Asrama Latimojong saat masih aktif

Asrama Latimojong boleh jadi merupakan tempat bersejarah bagi ikatan keluarga mahasiswa/pelajar indonesia sul-sel sejak tahun 1958 yang sudah banyak melahirkan tokoh nasional. Atas dasar tersebut, semua mahasiswa asal Sul-sel yang memiliki ikatan batin dengan sejarah asrama Latimojong berusaha melakukan perlawanan untuk menolak dari eksekusi lahan Wisma Latimajong yang kabarnya sudah dibeli oleh sebuah yayasan di kota Bogor bernama Yayasan Al Ghazali Bogor.

Gesekan antar mahasiswa dengan aparat yang mengatasnamakan pengadilan negeri Bogor dinilai tidak obyektif sehingga timbul kesan adanya tekanan pihak tertentu untuk melakukan penggusuran. Padahal pada saat itu, pemerintah Sulsel sedang melakukan upaya hukum yaitu peninjauan kembali karena adanya novum.

Alasan penundaan juga diatur dan ditentukan UUMA No14 thn 1985 sebagaimana telah di ubah dangan UUMA No 5 tahun 2004. Maka rencana mengeksekusi atau mengambil alih secara paksa wisma mahasiswa latimojong bisa di tunda sembari menunggu proses PK.
penetapan ketua PN Bogor tanggal 30 Desember 2016 dengan nomor: 17/Pdt/Eks/2016/PN.Bgr jo No.61/Pdt.G/2012/PN. Bogor.

Namun kenyataannya, masa penundaan yang dilindungi oleh Undang-undang hukum tersebut bukan halangan oleh pihak aparat dan Pemda Bogor untuk tetap melanjutkan proses penggusuran asrama Latimojong. Mahasiswa asal Sul-sel yang selama ini bergantung di asrama dengan biaya pas-pasan akhirnya kehilangan tempat menetap. Mereka menyebar ditempat-tempat kost dan rumah keluarga di Bogor.

Sementara itu dilansir di Bogor News, Eksekusi asrama Latimojong sebenarnya berdasarkan hasil kesepakatan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang sudah bersedia memberikan hibah tanah di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Bogor Tengah untuk dijadikan pengganti asrama Mahasiswa Latimojong atas permintaan Pemerintah Sulawesi Selatan.

Pertemuan khusus kedua instansi pemerintah dilakukan di ruang Paseban Punta, Balai Kota Bogor bulan Agustus 2017 lalu. Dalam pertemuan itu disepakati hibah tanah dari Pemkot Bogor kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Sementara sampai proses hibah selesai, Pemkot Bogor akan membuat SK Wali Kota untuk pinjam pakai kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Asisten Administrasi Provinsi Sulawesi Selatan Ruslan Abu mengatakan, dalam putusan Mahkamah Agung (MA) Asrama Latimojong dimenangkan penggugat. Saat ini Pemkot Bogor turut mengambil peran dan menyiapkan lahan pengganti untuk dibangun asrama Latimojong.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan rencananya akan menganggarkan biayanya yang coba direalisasikan di APBD Perubahan 2017.

Foto : Ucha Bonkz

SIAPA GUBERNUR SULSEL 2018 - 2023 PILIHAN ANDA?

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates