BREAKING NEWS

Tuesday, 25 July 2017

KEMENTERIAN PARIWISATA "LIRIK" PARIWISATA SULAWESI BARAT


Jajaran pemerintah provinsi Sulawesi Barat pada bulan Juli 2017 telah melakukan audiensi di kementerian Pariwisata. Menteri Pariwisata Arief Yahya didampingi oleh Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti menyambut baik Gubernur Sulawesi Barat, Andi Ali Baal Masdar beserta jajarannya.

Dalam audiensi tersebut, Gubernur Sulbar mengundang Menpar untuk menghadiri Polewali Mandar International Folk and Art Festival Art yang akan diselenggarakan pada 1-5 Agustus 2017. Selain itu, Gubernur Sulbar juga mengutarakan intensi untuk:

1. Berpartisipasi dalam program pariwisata sesuai dalam kalender even.
2. Mengusulkan program Sail teluk Polewali Mandar
3. Konektivitas Udara di Sulawesi Barat


Dalam audiensi tersebut Menpar mengapresiasi Gubernur yang memprioritaskan Sektor Pariwisata dalam pembangunan daerah. Kementerian Pariwisata memberikan komitmennya antara lain ialah:

1. Agenda pariwisata Sulawesi Barat dimasukkan dalam calendar of event Kemenpar.
2. Untuk Pengembangan destinasi, disarankan berupa pengusulan kawasan ekonomi khusus.
3. Kemenpar berkomitmen membantu pengembangan SDM Pariwisata di Sulbar.

(Sumber : Kementerian Pariwisata)

Monday, 24 July 2017

SANDEQ RACE 2017, DIBERANGUS KONSPIRASI LOKAL?


Perahu sandeq sangat masyhur sebagai warisan kebudayaan bahari Masyarakat Mandar yang sukses mempresentasikan budaya lokal bahari Sulawesi Barat hingga ke mancanegara. Tercatat dalam perhelatan festivalnya yang populer dengan nama Sandeq Race sejak digelar tahun 1997, telah menciptakan momen budaya bahari yang paling fenomenal sepanjang sejarah kegiatan maritim di Indonesia. Sama halnya dengan perahu Pinisi, perahu Sandeq adalah salah satu warisan budaya nasional yang mampu memberikan kontribusi besar mengangkat citra Indonesia ke forum budaya bahari tertinggi dalam ketatnya persaingan industri dunia pariwisata global.

Sejak awal perhelatannya, Sandeq Race telah menuai banyak pujian dan apresiasi dari berbagai media nasional dan media internasional. Bahkan beberapa produsen film asing dari berbagai negara ikut memproduksi filmnya dalam format dokumenter. Promosi Sandeq race dinilai sukses menarik perhatian dunia dan mengangkat kearifan lokal budaya Sulawesi Barat ke jenjang tertinggi pariwisata nasional.  

Kesuksesan Sandeq race mempromosikan budaya lokal bahari Sulawesi Barat tidak terlepas dari peran dan jasa besar seorang peneliti Jerman bernama Horst Hibertus Liebner, seorang ilmuan budaya maritim yang puluhan tahun menghabiskan hidupnya di Makassar. Kegigihannya menekuni sejarah perahu Sandeq membuka mata masyarakat Mandar untuk mencintai kembali budaya leluhurnya.

Pada dasarnya, perahu sandeq sebenarnya sudah punah. Kepunahan sandeq disebabkan pilihan nelayan yang saat ini lebih memilih beralih ke kapal motor. Dalam kondisi tersebut, Horst muncul di tanah Mandar dengan misi penelitian baharinya. Melalui penelitian dan proses sosialisasinya selama bertahun-tahun, ia membuka wawasan masyarakat Sulbar mengenai perahu Sandeq sebagai aset keunggulan budaya bahari suku Mandar. 

Tahun 1996 Horst bersama Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin akhirnya membuktikan keunggulan perahu Sandeq dalam proyek ekspedisi pelayaran internasional  ke Sabah, Brunei Darussalam, Sarawak, dan Jakarta, dengan menggunakan dua perahu sandeq. 

Tidak selesai dengan itu, Horst bersama Christian Pelras (penulis buku Manusia Bugis), juga membantu promosi sandeq ke luar negeri. Untuk pertama kalinya sandeq diboyong ke Eropa guna menjadi maskot Pameran Maritim 1997 di Museum Nasional D’historie Naturalle Paris, Perancis dengan tema “Dari Pulau ke Pulau”. Di halaman museum nasional Eropa tersebut, sandeq menjadi point of interest dari 25 Februari 1997 sampai 6 Januari 1998. (sumber: ridwanmandar.blogspot.co.id)

Peranan Horst membumikan perahu Sandeq semakin kuat ketika ia mempelopori even Sandeq Race. Melalui even inilah, publik bisa melihat langsung bagaimana ketangguhan perahu khas Mandar ini menaklukkan ombak laut, melewati selat demi selat sejauh ratusan kilometer hingga ke Makassar Sulawesi Selatan. Dari tahun ke tahun setiap bulan Agustus, perhelatan Sandeq race telah membuka mata dunia bahari nasional dan internasional kendati dari sisi manajemen pengelolaannya masih terus dilakukan pembenahan. Eksistensi perahu Sandeq pun semakin mendunia.

Tahun 2011, popularitas Sandeq Race mulai menuai polemik. Intervensi berbagai pihak dari aparat pemerintah daerah dan elemen lembaga masyarakat lokal mulai bermunculan membawa semangat egosentris dengan dalih bahwa budaya Sandeq adalah milik masyarakat Sulawesi Barat, maka pelaksanaannya pun harus di wilayahnya sendiri. Tahun 2012, semua kebijakan hingga pendanaan dikendalikan langsung oleh aparat pemerintah daerah. Pengelolaan even yang selama ini masih berbenah kemudian diambil alih oleh pihak dengan standar pemahaman even yang seadanya. Pengalihan tersebut mengakibatkan pelaksanaan Sandeq Race berjalan dengan manajemen yang amburadul. Partisipasi masyarakat pun semakin berkurang. 

Kendati pelaksanaannya tetap dipaksakan ditanahnya sendiri, even Sandeq Race tak lebih daripada sekedar kegiatan pesta rakyat agustusan semata. Hanya dinikmati segelintir orang yang kebingungan. Sandeq Race telah kehilangan tuah. Ia surut dan tenggelam meninggalkan berbagai persoalan sosial yang melukai harapan dan tujuan luhurnya. 

Sekian tahun terpuruk, tahun 2017, beberapa aktivis budaya di Sulawesi Barat mulai membangun bekerjasama dan berinisiatif untuk membangkitkan kembali momen kebesaran Sandeq Race. Horst pun bersedia untuk kembali menata manajemen operasionalnya yang selama ini dianggap gagal. 

Dalam masa proses persiapan Sandeq Race 2017, gubernur yang baru terpilih, Ali Baal Masdar telah memastikan dukungan penuh pemerintah provinsi Sulawesi Barat untuk ikut menyukseskan pelaksanaannya. Ia bahkan menjanjikan dana operasional sebesar 2 milyar rupiah. 

Jumlah dana operasional Sandeq Race 2017 yang cukup besar (dan menggiurkan) itu kembali menimbulkan masalah klasik. Menjelang penyelenggaraan, pencairan dana menjadi rumit karena tiba-tiba ada pergantian susunan kepanitian resmi secara mendadak. Terjadinya proses manajemen yang tidak sehat tersebut, pihak panitia penyelenggara memastikan ada konspirasi yang ingin mengatur alokasi pendanaan. Lantaran tidak adanya perhatian serius dari penentu kebijakan, semua pihak panitia mengajukan pengunduran diri secara resmi dan tidak ikut bertanggungjawab dengan sistem pengelolaan dana yang membingungkan itu.

Dalam kekisruhan tersebut, sekelompok orang tetap memastikan pelaksanaan Sandeq Race 2017 tetap dilanjutkan karena dana sudah terlanjur digelontorkan. Mereka tidak peduli jika Horst dan kepanitiaannya tidak terlibat lagi.

Jika melihat jejak rekam pelaksanaan even Sandeq Race yang beberapa tahun belakang ini telah dilaksanakan, maka besar "kemungkinan" perhelatan even Sandeq race 2017, kembali tak lebih daripada sekedar kegiatan pesta rakyat agustusan semata. Dan juga kembali hanya dinikmati segelintir orang yang kebingungan. Sandeq Race jelas semakin kehilangan tuahnya. 

foto : kompadansamandar.co.id


klik informasi detail :

Friday, 21 July 2017

DUKUNGAN PEMPROV SULBAR ABSURD, SANDEQ RACE 2017 TERANCAM BATAL


Informasi perhelatan Sandeq Race 2017 yang sudah didengungkan sejak awal tahun 2017 menjadi simpang siur dan diduga terancam batal. Even Sandeq race 2017 yang rencananya digelar bertepatan dengan peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI tahun 2017 menggandeng provinsi Sulawesi Selatan kini seperti "pungguk merindukan bulan'.

Ketidakjelasan even bergengsi masyarakat Sulbar ini disebabkan karena belum ada kejelasan dukungan dan sokongan anggaran dari pemerintah provinsi Sulawesi Barat.
Horst H Liebner selaku panitia penyelenggara mengatakan pihaknya belum mendapat kepastian terkait dukungan dana pemprov Sulbar, padahal dari jauh hari, berbagai persiapan kelengkapan acara telah diadakan hingga ke tahap promosi.

Didampingi bendahara kegiatan, Mr Jinal Patel keduanya mengeluhkan lambannya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar merespon perkembangan even itu. Menurut Horst, Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar telah menjanjikan dukungan pemprov Sulbar. Namun hingga mendekati jadwal pelaksanaan, belum nampak sama sekali keseriusan pemerintah sesuai janji gubernurnya. 

"Jangankan uang, pihak pemerintah yang kami ajak bicara semuanya tidak nyambung, ada yang mengaku tidak tahu, ada juga yang pura-pura bodoh,” ujar Horst kesal.

Biaya perhelatan Sandeq Race membutuhkan dana Rp2 miliar dan sudah diajukan melalui proposal. Usulan anggaran itu pun dimasukkan kedalam anggaran Dinas Pariwisata Provinsi Sulbar sebesar Rp 1 miliar. Namun ironisnya, anggaran yang semestinya harus siap bulan Juli,  belakangan malah dialihkan pada kegiatan lain.  

Hal itu membuat pihak penyelenggara menjadi bingung disaat semua persiapan sudah mendekati jadwal pelaksanaan dan kebutuhan dana operasional semakin mendesak. Kekuatan dana yang bersumber dari donatur pun tidak mungkin bisa diandalkan.

Menurut Horst, pihak pemerintah menginginkan pelaksanaan Sandeq Race bisa diundurkan ke bulan September untuk menyesuaikan anggaran. Namun, menurut Horst pelaksanaan Sandeq Race tidak akan menjamin karena sulit mengorganisir sebagian besar peserta yang berprofesi nelayan. Mereka jelas lebih memilih melaut mencari ikan yang mulai melimpah di bulan September.

Tidak seriusnya Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mendukung perhelatan budaya baharinya yang sangat bergengsi ini jelas sudah bertolak belakang dengan rencana fokus pada program pengembangan pariwisatanya. Dilansir di Tribun Online, Gubernur terpilih Sulawesi Barat 2017, Ali Baal Masdar (ABM) pernah menyatakan "Saatnya Sulbar lima tahun ke depan menonjolkan pariwisatanya, kalau selama ini Sulbar tenggelam dengan hal itu, maka saat ini kita perlihatkan bahwa di Sulbar tidak ketinggal persoalan potensi wisata," kata ABM dalam rilisnya. ABM bahkan sesumbar akan membangkitkan perhelatan Sandeq Race yang menargetkan rute pelayarannya tidak hanya di Sulbar tapi sampai ke Bali. 

Jika dikaitkan dengan kenyataan yang terjadi, pernyataan itu hanya sebuah bentuk kepercayaan diri yang absurd.


(Referensi : parepos.co.id)

Sunday, 2 July 2017

Kopi Mandar, Terpuruk Menembus Sekat


Kopi di tanah Mandar Sulawesi Barat merupakan salah satu komoditi unggulan yang sudah menyatu dalam tradisi budaya masyarakatnya. Perjalanan panjang tanaman kopi yang tumbuh membentang sepanjang dataran tinggi Sulawesi Barat memastikan keberadaannya tidak lepas dari kehidupan sosial dan ekonomi wilayah ini.

Kemunduran produksi kopi terjadi di Mandar sekitar tahun 1970-an. Ditengarai hal ini mulai terjadi ketika perusahaan-perusahaan asing dinasionalisasi oleh pemerintah RI ditahun 1950-an untuk menciptakan kemandirian negara Indonesia. Sayangnya orang-orang yang menangani sektor usaha kopi tidak memperhatikan lagi kualitas dan kuantitas kopi yang diproduksi.

Sejak awal tahun 2000-an, pecinta kopi Indonesia kembali bangkit dan akhirnya menjalar sampai ke Sulawesi Barat. Belakangan ini kedai kopi di Mandar nampak menjamur di mana-mana. Namun disayangkan tak ada lagi menu kopi Mandar. Kedai kopi kelas bawah menyajikan seabrek kopi kemasan dari Jawa, sementara kedai kopi berkelas menyajikan kopi premium dari berbagai daerah. Padahal tanaman kopi termasuk jenis komoditi kuno di Mandar dengan cita rasa Robusta klasik yang khas. Ironisnya, disaat pertumbuhan trend penikmat kopi berkembang pesat, kopi Mandar malah terabaikan di tanahnya sendiri.

Secara geografis, wilayah-wilayah pegunungan Mandar berbatasan langsung dengan Tana Toraja, si penghasil kopi yang sampai hari ini terkenal hingga ke dunia internasional. Kendati kualitas cita rasa kopi Mandar tidak kalah dari tetangganya, namun produksinya belum menemukan bentuk yang bisa menjamin para petaninya. Tidak ada aktifitas yang berarti untuk meningkatkan kualitas mutu produk selain memanen dan mendistribusi ke pasar-pasar lokal. Itu pun tanpa kemasan.

Dalam situasi itulah muncul sebuah brand lokal dengan label Cap Maraddia dari salah satu kawasan pertanian kopi di Tapango. Dalam segala keterbatasannya, produk kopi lokal Mandar ini diolah seadanya dan berusaha menerobos celah pasar industri kopi lokal yg sudah tanggung didominasi produk luar. Kelebihan kopi lokal Cap Maraddia adalah olahannya menggunakan pola tradisional sehingga kualitas kemurnian rasanya tetap terjaga.

Pemilik brand Cap Maraddia, Zulfihadi mengakui bahwa tahap yang paling berat dalam proses mengangkat kopi lokal Mandar adalah meyakinkan para pelaku usaha kopi lokal untuk meningkatkan standar produksinya. "Saya butuh waktu yang panjang untuk melakukan edukasi langsung ke masyarakat", katanya.

Seiring waktu, kopi lokal Mandar Cap Maraddia saat ini sudah mulai menelusuri berbagai akses untuk menemukan peluang bisnis yang terbuka baik dari pemerintahan maupun koneksi jaringan khususnya media sosial.

Referensi :
http://capmaraddia.blogspot.co.id/2017/06/kopi-mandar-mutiara-hitam-yang.html?m=1

Tuesday, 27 June 2017

Sandeq Race 2017, Adu Perahu Tradisional Tercepat di Dunia kembali digelar


Adu cepat perahu tradisional yang sangat populer di jazirah Sulawesi ini kembali digelar setelah sekian lama tidak pernah lagi terdengar gaungnya. Perlombaan perahu bercadik asal tanah Mandar Sulawesi Barat berlabel Sandeq (baca : sande’) Race di akui sebagai even lomba perahu tercepat dan paling alot di dunia. Tidak ada satu pun even perlombaan perahu tradisional di dunia yang se-ekstrem Sandeq Race menantang ombak.
Berbeda dengan lomba sebelumnya yang bersifat lokal dengan lintasan rutenya dari Mamuju sampai Polewali Mandar, kali ini para peserta yang disebut Passandeq akan menempuh jarak ratusan kilo meter, mulai dari Pantai Mamuju Sulawesi Barat hingga Pantai Losari Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Rute lintas provinsi ini sudah pernah dilakukan saat kesuksesan even Sandeq Race beberapa tahun silam.
Sekertaris Panitia Sandeq Race 2017, Muhammad Ridwan Alimuddin mengatakan, agenda Sandeq Race akan dimulai 16 Agustus yang dimulai dengan acara seremonial oleh para pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar.
“Semacam lelang perahu sandeq untuk pejabat. Acara tersebut acara santai, dengan kata lain bukan lelang betulan. Pejabat yang ‘menang’ lelang atas sebuah perahu, maka dia akan naik di perahu tersebut untuk kemudian berlayar, berlomba dengan perahu lain yang juga ada pejabat disitu,” papar Ridwan.
17 Agustus, kegiatan resmi Sandeq Race dimulai. Start etape pertama, menempuh rute Mamuju – Deking, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene. Para peserta lomba akan menginap di pit stop Deking. Panitia Sandeq Race menggelar acara pasar malam di Deking bekerjasama dengan masyarakat setempat.
18 Agustus dimulai rute etape Deking – Somba, Kecamatan Sendana. Lokasi finishnya di Pantai Labuang. Di pit stop ini, digelar beberapa lomba unik yang melibatkan masyarakat setempat dan peserta Sandeq Race. Misalnya lomba makan kuliner khas Sulawesi Barat, antara lain jepa.

19 Agustus etape ketiga, rutenya Somba – Majene. Di Majene peserta diinapkan dua hari sebab pada tanggal 20 Agustus ada lomba segitiga di Teluk Majene. Even pendukung di pitstop Majene yaitu lomba perahu sandeq kecil dari Tangnga-Tangnga, Kecamatan Tinambung, Polewali Mandar ke Majene. Juga digelar even Kampung Passandeq yang berisi edukasi mengenai sandeq.
21 Agustus, rute Majene – Polewali. Di pitstop Polman peserta kembali menginap dua hari dan kembali melanjutkan lomba segitiga kedua. selain ikut memeriahkan berbagai even pesta rakyat antara lain lomba becak dan tarik tambang lepa-lepa.
23 Agustus, rutenya Polewali – Ujung Lero, Kabupaten Pinrang, Sulsel. Di perkampungan Mandar tersebut akan dibuat beberapa rangkaian acara. Selain lomba segitiga ketiga pada tanggal 24 Agustus, hiburan etnis Mandar ditampilkan di pitstop Ujung Lero.
25 Agustus rutenya Ujung Lero – Barru, Sulsel dan pada 26 Agustus akan ditempuh etape terakhir, Barru – Makassar. Meski finish pada tanggal tersebut, pada tanggal 27 Agustus dilanjutkan dengan lomba dari Pantai Losari ke salah satu pulau kecil di perairan Makassar.
Acara hiburan dan pemberian hadiah dilaksanakan di Makassar, kerjasama panitia Sandeq Race 2017 dengan Pemerintah Kota Makassar.
“Bentuk kerjasama kami dengan Pemkot Makassar yang juga sekaligus ikut sebagai sponsori Sandeq Race 2017,” jelas Ridwan.
Panitia pelaksanaan Sandeq Race 2017 kali ini diketuai Naharuddin. Sementara Horts Liebner sebagai koordinator darat dan Muhammad Ridwan Alimuddin sebagai sekertaris panitia pelaksana.
Referensi : Mandarnews.com/foto: gocelebes.com

Tuesday, 20 June 2017

Perancang Pesawat Tempur Mutakhir asal Indonesia ini diincar Negara-negara Eropa dan Barat

Dwi Hartanto bersama Habibie

Dwi Hartanto jelas bukan orang yang sembarang ketika Ilmuwan sekaliber Habibie sampai begitu menggebu-gebu mencarinya hingga ke negeri Belanda.

Bagaimana tidak istimewa, Dwi Hartanto adalah ilmuwan utama dari sebuah tim ahli yang merancang bangun pesawat tempur tercanggih bersama Korea yaitu KFX dan IFX, sebuah jenis pesawat jet yang paling mutakhir dalam bidang militer udara internasional.

Penemuan pesawat tempur generasi ke 6 yang sedang di kembangkan Dwi Hartanto membuat lompatan tehnologi yang mencengangkan dunia disaat teknologi pesawat tempur paling canggih sekarang baru pada generasi ke 5 seperti yang dimiliki USA dan Rusia. Pesawat generasi ke 6 yang dikembangkan Dwi, mampu melesat dengan kecepatan tinggi di atas atmospir yang miskin oksigen, Ciri khas pesawat generasi ke 6 yakni tanpa ekor di badannya dan bisa terbang tanpa awak pengemudi yang dikendalikan dari darat.

Belum lama ini Dwi mendapat anugerah dan kesempatan untuk mengukir prestasi dan mengharumkan Ibu Pertiwi lagi dengan menapakkan kaki di podium tertinggi dalam ajang prestigious kompetisi riset teknologi antar Space Agency (Lembaga Penerbangan dan Antariksa) dari seluruh dunia di Cologne, Jerman. Kompetisi prestigious antar space agency tersebut diikuti oleh ilmuwan-ilmuwan perwakilan space agency masing-masing negara, antara lain; ESA (Eropa), NASA (Amerika), DLR (ESA/ Jerman), ESTEC (ESA/ Belanda), JAXA (Jepang), UKSA (Inggris), CSA (Kanada), KARI (Korea), AEB (Brazil), INTA (Spanyol), dan negara-negara maju lainnya.

Kompetisi riset tersebut tergolong prestigious karena selain merupakan “privacy-based space agency research competition”, kompetisi tersebut juga menghadirkan topik-topik riset dengan teknologi tinggi (pinnacle of technology category) dan tahapan seleksi masuknya juga tidak mudah. Sebelum masuk ke tahap final di Cologne, Jerman, para ilmuwan harus melewati tahap seleksi internal di masing-masing space agency. Top 3 dari masing-masing space agency berhak mengikuti tahap final yang dibagi dalam 3 kategori atau topik yang berbeda, yaitu: Spacecraft Technology, Earth Observation dan Life Support Systems in Space. Dwi Hartanto menjuarai bidang kategori riset Spacecraft Technology dengan judul riset “Lethal weapon in the sky” atau “Senjata yang mematikan di angkasa”. Dari hasil riset tersebut, beberapa teknologi utama sudah berhasil ia patenkan bersama timnya.

“Sesuai dengan judul dalam risetnya, saya dan team mengembangkan pesawat tempur modern yang disebut sebagai pesawat tempur generasi ke-6 (6th generation fighter jet). Berawal dari keberhasilan saya dan team saat diminta untuk membantu mengembangkan pesawat tempur EuroTyphoon di Airbus Space and Defence menjadi EuroTyphoon NG (Next Generation/ yang sekarang dalam tahap testing tahap akhir) yang mampunyai kemampuan tempur jauh lebih canggih dari generasi sebelumnya dari segi engine performance, kecepatan, aerodinamik serta teknologi (avionik) tempurnya. Keberhasilan tersebut membawa saya dan team untuk meneruskan perkembangan teknologi pesawat tempur ke level berikutnya yang digadang bakal menjadi “era pertempuran pesawat abad baru,” demikian penjelasan Dwi yang gelar bachelornya ia dapatkan dari Tokyo Institute of Technology, Jepang.

Dengan berbekal penguasaan tekonologi yang mendalam dan matang dalam bidang roket dan jet teknologi, Dwi dan timnya berhasil mengembangkan engine pesawat tempur modern yang mereka sebut dengan “hybrid air-breathing rocket engine”.

Teknologi baru tersebut memungkinkan pesawat tempur generasi ke-6 yang sedang mereka kembangkan untuk melesat di dalam jangkauan atmosfir bumi dan near-space (jangkaun di luar atmosfir, yang tipikal jet tempur generasi sebelumnya tidak dapat terbang karena keterbatasan oksigen). Teknologi ini sangat berbeda dengan teknologi mesin jet lainnya seperti SABRE (Synergistic Air-Breathing Rocket Engine) maupun tipikal Scramjet/ Ramjet konvensional yang masih bermasalah dalam thrust-to-weight ratio serta pengendalian energy yang dihasilkan.

Hybrid air-breathing rocket engine yang mereka kembangkan tersebut mampu beroperasi bergantian dari mode penerbangan level atomosfir ke mode penerbangan near-space atau sebaliknya dengan kecepatan hypersonic (Mach 7-8), yang tentu saja mengalahkan engine performance dan kecepetan pesawat-pesawat tempur generasi ke-5 yang hanya mengandalkan teknologi “afterburner” konvensional.

Ketika ditanya tentang pengalaman yang membanggakan ini, Dwi pun menambahkan: “ada sesuatu yang menarik dari pengalaman ini, yaitu sesaat selepas presentasi, bahkan sebelum saya sempat kembali ke tempat duduk, ada beberapa orang sedang menunggu dan menghampiri saya dengan raut muka sangat serius yang sempet membuat saya bertanya-tanya dalam hati beberapa saat.

Ternyata beberapa orang tersebut adalah perwakilan dari Lockheed Martin dan NASA/ JPL yang tertarik dengan teknologi yang sedang saya dan team kembangkan dan menawarkan kerjasama strategis untuk bersedia masuk dalam program transfer teknologi untuk membantu mengembangkan project di tempat mereka. Permintaan organisasi kedirgantraan dan perusahaan besar tersebut sedang didiskusikan di level internal ESA dan Airbus Defence and Space karena saya juga berafiliasi dengan perusahaan tersebut, yang notabene adalah saingan dari Lockheed Martin, perusahaan pesawat tempur dari Amerika Serikat.”

Setelah berbincang-bincang tentang teknologi terbaru, Habibie meminta Dwi bersedia membantu negara untuk meningkatkan mutu pendidikan teknologi terbarukan. Dwi pun menyanggupi permintaan pakar pesawat terbang tersebut. Karena itu, dia bersedia pulang untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan stakeholder pendidikan tinggi di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Dwi juga curhat soal kegetolan pemerintah Belanda menawari dirinya paspor Negeri Kincir Angin. Sejauh ini, doktor bidang aerospace engineering itu mampu menolak dengan halus.

’’Pak Habibie bilang, kalau pemerintah Belanda masih menawari lagi, apalagi mengintimidasi saya disuruh melapor ke beliau. biar beliau yang menghadapi pemerintah Belanda,’’ kenang Dwi.

Habibie mewanti-wanti agar Dwi tetap mempertahankan identitas kewarganegaraannya. Jangan sampai mau pindah kewarganegaraan di Belanda. Perkara berkarya membantu perusahaan internasional atau bahkan membantu pemerintah Belanda, itu sah-sah saja sebagai profesional.

’’Kamu jangan sampai mencabut jati diri dan kewarganegaraan Indonesia-mu,’’ pesan Habibie.Apalagi mengingat kejadian ketika IPTN gulung tikar Amerika dan Eropa serasa mendapat durian runtuk ketika para insyinyur Indonesia pada diaspora kesana, dan beberapa orang sekarang menjadi top management di Eropa dan USA.

Wanti-wanti Habibie itu menguatkan pesan yang disampaikan orang tua Dwi. Setiap pulang ke Jogja, misalnya saat Lebaran, orang tuanya selalu berpesan supaya Dwi tidak lupa asal muasalnya Indonesia.

Pria 28 tahun yang sebentar lagi bergelar profesor itu menyatakan, gencarnya tawaran berpaspor Belanda itu muncul karena riset yang dilakukan sangat sensitif. Riset-riset Dwi bersama para guru besar dari Technische Universiteit (TU) Delft selama ini menggarap bidang national security Kementerian Pertahanan Belanda, European Space Agency (ESA), NASA, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), serta Airbus Defence.

Salah satu riset sensitif yang dia garap adalah teknologi roket untuk militer dan misi luar angkasa. Dwi juga menggarap satelit untuk riset luar angkasa serta pertahanan dan keamanan (hankam). Dia terlibat pula dalam penyempurnaan teknologi pesawat tempur Eurofighter Typhoon generasi anyar milik Airbus Defence.

’’Riset bidang itu kan sensitif sekali jika digarap orang dari negara lain,’’ kata ilmuwan muda jenius tersebut.

Kasarannya, potensi untuk menjual hasil riset ke pesaing usaha atau membocorkan pertahanan Belanda ke negara lain sangat memungkinkan. Karena itulah, Dwi berkali-kali ditawari untuk pindah kewarganegaraan Belanda.

Dari riset-riset yang dilakukan, Dwi telah mengantongi tiga paten di bidang spacecraft technology. Sayang, dia terikat kontrak untuk merahasiakan paten tersebut. Dia tidak bisa membeberkan tiga paten itu karena terkait dengan program strategis.

Dia mengaku cukup dilematis saat menolak tawaran pindah kewarganegaraan tersebut. Sebab, biaya kuliah S-2 dan S-3 Dwi di TU Delft dibiayai pemerintah Belanda. Dia tidak ingin dicap sebagai ilmuan yang tidak bisa berterima kasih kepada pihak yang membiayai kuliahnya.

Sarjana Tokyo Institute of Technology itu menegaskan, dirinya tidak memiliki tip khusus saat belajar sehingga mampu meraih gelar doktor dalam usia muda. Menurut dia, kunci utamanya adalah harus memiliki interest atau ketertarikan pada bidang yang digeluti. ’’Butuh lebih dari passion,’’ ungkapnya.

Dia mencontohkan, ketika menggarap roket pada 2015, dirinya hanya sempat tidur 2–3 jam. Waktunya habis untuk melakukan riset-riset di laboratorium. Apalagi, risetnya memerlukan perhatian khusus karena terkait dengan kemampuan high qualified. ’’Sama-sama berbasis teknologi.

Bekal lain yang dimiliki Dwi adalah kemampuan di bidang matematika dan fisika. Saat duduk di bangku sekolah, bungsu dua bersaudara itu memang hobi astronomi. Kemampuan menguasai matematika dan fisika itulah yang mengantarkannya menjadi calon profesor di bidang aerospace engineering dalam usia yang terbilang masih muda.

(Referensi : Netralitas.com)
 
Copyright © 2014 Sulawesi Diary. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates