BREAKING NEWS

Thursday, 10 May 2018

Minimnya Inovasi Manajemen Pengolahan Sampah di Sulsel


Perkembangan kota di Sulsel khususnya Makassar sebagai kota metropolitan terbilang cukup pesat di Indonesia Timur. Namun, hal tersebut berbanding terbalik dengan sistem pengelolaan sampah yang diterapkan tidak inovatif. Polanya masih tergolong kuno dan konservatif.
Ketua Forum Studi Energi dan Lingkungan, Anwar Lasapa mengungkapkan, “Manajemen persampahan kita tidak memiliki desain manajemen yang jelas. Pengelolaannya masih menggunakan paradigma lama yaitu dengan cara mengumpul, mengangkut lalu membuang ke TPA,” katanya.
Manajemen persampahan modern selayaknya kota besar seharusnya sudah menggunakan pola recovery (pemulihan) sampah melalui konsep daur ulang sampah. Kota makassar merupakan kota metropolis yang tingkat volume sampahnya sangat tinggi sehingga membutuhkan penanganan sampah yg lebih modern dan berkelanjutan.
Lebih ironis lagi, armada pengangkut sampah sangat minim. Fasilitas mobil pendukungnya n belum ada rencana penambahan armadanya. “Ini menunjukan bahwa pemkot tidak serius dalam mengelolah sampah di kota makassar,” tegas Anwar Lasappa. Tidak heran, sampah di Kota Makassar masih sering kita jumpai di sejumlah sudut kota.
Kota Ma­kassar adalah salah satu kota besar yang menghasilkan produksi sampah kurang lebih 60 ribu kubik atau setara 250 – 300 ton per harinya. Jumlah penduduk kota Makassar saat ini mencapai sekitar 1,3 juta jiwa, diperkirakan menghasilkan sekitar 3800 m3 sampah perkotaan setiap harinya. Dengan perkiraan jumlah penduduk yang akan mencapai sekitar 2,2 juta jiwa pada tahun 2015, diperkirakan produksi sampah tiap orang sekitar 0.3 m3 per hari, menghasilkan total 4,500 m3 sampah tiap hari. Ini akan menjadi masalah yang serius apabila tidak terdapat rencana dan pengelolaan sampah padat perkotaan yang memadai.

Terjadi Pengerusakan Lingkungan parah di Bantaran Sungai Jawi-jawi Parepare


Sejak pembangunan perumahan di sepanjang sisi bantaran sungai Jawi-jawi, kota Parepare, habitat alami dan keseimbangan sungai itu akhirnya terganggu. Minimnya pemantauan serta terabaikannya wawasan lingkungan menjadikan para pengembang swasta di kota Parepare telah menjadi momok yang mengerikan bagi lingkungan alami di kota pelabuhan itu.
Ironisnya, pohon-pohon besar yang selama ini menjaga abrasi bantaran sungai Jawi-jawi, sudah ditebang habis-habisan untuk pelebaran lahan. Kondisi tersebut membuat beberapa lahan pinggir sungai mengalami abrasi parah. Sedimen lumpur menumpuk dan ukuran sungai mengecil.
Ada pun pembangunan tanggul sepanjang sungai hanya dibuat standar seperti pada umumnya tanggul bantaran sungai yang menggunakan pola trap dan jaring. Kondisi tanggul tersebut dipastikan tidak akan mampu menampung sedimen lumpur sungai, utamanya di musim hujan.
Menurut beberapa aktivis alam yang selama ini menyoroti pengerusakan lingkungan di bantaran sungai Jawi-jawi, selain kegiatan penebangan pohon, pembangunan perumahan para pengembang di pinggir sungai Jawi-jawi tidak mengikuti kaidah standar yang mendukung habitat alami. Justru malah menambah daya rusak lingkungan alami sungai Jawi-jawi. Sementara diketahui, sungai Jawi-jawi selama ini merupakan sumber air yang menunjang kegiatan.ekonomi bagi warga yang menghuni wilayah hulunya.
Dinas terkait seperti KLH dan dinas kehutanan setempat, ketika dihubungi cenderung tidak ambil peduli dengan kondisi sungai Jawi-jawi. Alasannya, lahan sepanjang bantaran sungai Jawi-jawi adalah milik pribadi. Sehingga kegiatan penebangan pohon dan pengerusakan lingkungan alami sungai menjadi hak pemilik lahan sepenuhnya.

Lihat foto-fotonya :
https://fotosulawesi.blogspot.co.id/2018/05/foto-ketika-pepohonan-bantaran-sungai.html?m=1

Tuesday, 8 May 2018

Pertama Kalinya Atlet Pemanjat Tebing Indonesia No.1 di Dunia


Aries Susanti Rahayu hanyalah gadis sederhana dari pelosok Grobogan, Jawa Tengah sana. Namun hari Minggu (5/5/2018) kemarin Ia mengejutkan dunia.

Untuk pertama kalinya Merah Putih berkibar di level tertinggi olahraga Panjat Tebing setelah Aries Susanti Rahayu berhasil menjadi juara dan menyabet emas  di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing - IFSC World Cup 2018 di China.

Indonesia yang seringkali dipandang sebelah mata dan relatif sebagai pendatang baru di dunia panjat tebing internasional  langsung menggebrak lewat performa Aries dengan mencatat waktu tercepat di babak kualifikasi Speed Climbing. Performa gadis tersebut terus meningkat dan mengalahkan lawan-lawan tangguh di babak berikutnya antara lain dari Perancis, Kanada, Jepang dan berbagai negara lainnya yang sudah lebih dahulu populer menekuni olahraga ini. Hingga akhirnya di final Ia berhadapan dengan atlet tangguh dari Russia, Elena Timofeeva. Elena adalah peringkat 3 kejuaraan dunia sebelumnya di Moscow.

Di depan ribuan penonton yang memadati Huayan Climbing Park, Chongqing, dengan luar biasa mbak Aries meniti poin demi poin di papan panjat. Gadis berkerudung yang biasanya gemulai ini begitu perkasa melesat bagaikan spiderman melawan gravitasi hingga akhirnya mencapai puncak papan panjat setinggi 50 ft dengan catatan waktu 7.51 detik saja !

Sedangkan atlet Russia harus puas dengan perak dengan catatan waktu 9.01 detik. Aries pun menjadi juara dan Indonesia Raya bergema di China. Ia pun kini bertengger di puncak teratas seri Kejuaraan Dunia Panjat Tebing 2018. Hebatnya lagi, Aries nyaris memecahkan rekor dunia 7.46 detik yg saat ini dipegang oleh atlet berpengalaman Iulia Kaplina. Ini berarti hanya selisih sangat tipis 0.05 detik saja !

Tak kalah membanggakan, rekannya Puji Lestari juga menyabet juara ke-3.

(Ferry Hakim)

Monday, 26 March 2018

Video: Dua Pelaku Pelecehan Adat Tana Toraja diadili Secara Adat


Dua pelaku pelecehan adat Toraja, "injak Tengkorak” yakni Kiki serta teman prianya bernama Randy tiba di Toraja. Kedua pelaku berangkat dari makassar dan tiba pada Senin, (26/3) dinihari, didampingi keluarganya.
Informasi yang dihimpun rencananya hari ini akan diadakan pertemuan dengan pemangku adat serta keluarga di Ke’te Kesu. Pertemuan itu akan dihadiri pihak kepolisian, Forum Pemerhati Budaya Toraja dan unsur terkait.
“Kedua pelaku sudah tiba di Toraja tadi subuh. Ini sementara akan pertemuan di Ke’te Kesu,” ujar Ketua Forum Pemerhati Budaya Toraja, Edi Pasang Sura’ saat dikonfirmasi Torajadaily.com, 26/3/2018.
Sebelumnya kedua pelaku diamankan di Mapolsek Panakukang Makassar. Keduanya datang menyerahkan diri untuk diamankan pihak berwajib.
Kasus pose “Injak Tengkorak” ini diketahui membuat geram masyarakat Toraja. Foto ini dinilai sebagai pelecehan terhadap leluhur Toraja. Apalagi foto yang berseliweran di jagad maya ini viral.

Sumber: torajadaily.com
Video: Kareba Toraja

Sunday, 25 March 2018

Video: Lihat Antusias Masyarakat Jepang dengan Coklat dari Sulawesi Barat


Selama ini, Jepang dikenal sebagai negara yang sangat selektif dan ketat mengimport bahan baku dari luar negaranya. Mereka sangat memperhatikan kualitas dan kandungan kimia terutama menyangkut impor pangan.
Namun produksi coklat hasil pertanian dari Polewali Mandar yang dikelola oleh komunitas Indonesia Hijau, disambut dengan baik oleh mereka. Puluhan akademisi bahkan sangat antusias untuk merekomendasi hasil pertanian coklat dari petani Polman untuk menjadi konsumsi negara mereka.

Thursday, 22 March 2018

Lecehkan Adat Toraja, Dua Remaja Alay Terancam Sanksi Adat


Budaya milenium mencari sensasi, atau sekedar gaya-gayaan seringkali membuat pelakunya kebablasan. Hal itu terbukti ketika viral beredar foto dua orang pengunjung di Objek Wisata Ke’te Kesu, Toraja Utara.
Foto yang berseliweran di beberapa Sosial Media kemudian viral ini memperlihatkan seorang wanita memegang Tengkorak, sementara teman prianya berpose menaruh kaki di atas tengkorak tersebut seolah hendak menginjak tengkorak.
foto ini diposting pada Senin (19/3/ 2018) oleh sebuah akun medsos bernama Rezky. Foto ini dilengkapi dengan keterangan “Liburan Kemaren ke Kampung Semalam Doang nyempetin dulu”. Sementara wanita yang ada dalam foto sudah diketahui pula akun medsosnya dengan nama Khi-kie. Namun kedua akun tersebut kini sudah dihapus sejak fotonya viral.
Salah satu pelaku yang
Diduga dalam akun medsos
Bernama Khi-kie
Aksi dua pengunjung ini telah menuai kecaman dari warga Toraja. Perbuatan mereka dinilai telah melecehkan adat budaya dan menghina tradisi. Selain sudah melanggar aturan adat, para pelaku juga dikategorikan telah melanggar UU perlindungan benda purbakala.
salah satu tokoh pemuda Toraja, Annas Batara, mengutarakan bahwa kejadian seperti ini harus menjadi pelajaran bagi para wisatawan yang ingin datang ke Toraja agar bisa mengontrol diri dalam menghargai adat budaya setempat.
Ia mengatakan kasus ini juga menjadi PR buat pemerintah Kabupaten Toraja Utara khusususnya Dinas Pariwisata dan  pengelola objek wisata di Toraja untuk lebih memperketat pengawasan.
(Sumber torajadaily)

SIAPA GUBERNUR SULSEL 2018 - 2023 PILIHAN ANDA?

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates