BREAKING NEWS

Wednesday, 25 October 2017

Perahu Kuno Khas Sulselbar kembali Muncul di Eropa


Selama empat bulan mulai Oktober 2017, negara-negara di Eropa akan disuguhi keindahan keragaman budaya Indonesia dalam acara dua tahunan yang dijuluki Europalia Arts Festival 2017.

Dilansir di the Jakarta Post, 460 seniman dari berbagai wilayah di Indonesia berkumpul untuk menampilkan acara budaya sebanyak 228 festival, termasuk 69 pertunjukan tarian dan teater, 71 pertunjukan musik, 36 literatur karya, 38 karya film dan 14 jenis pameran.

Festival seni Europalia adalah sebuah platform untuk menyajikan seni kontemporer dan tradisional diantaranya budaya Indonesia. Indonesia dikatakan sebagai negara Asia keempat dan yang pertama di Asia Tenggara menjadi tamu kehormatan Europalia yang diselenggarakan sejak tahun 1969.

Sebagai tamu kehormatan dalam acara Europalia, Indonesia memamerkan salah satu kekayaan maritim Nusantara yakni perahu kuno bernama padewakang. Padewakang dipamerkan dengan ukuran skala sesuai besaran aslinya.

Perahu Padewakang setelah dirakit ulang dalam gedung musium La Boveria Liege, Belgia.
Foto : Rara Balasong

Dalam situs europalia.id dijelaskan bahwa sejarah perahu Padewakang kurang dikenal, bahkan oleh masyarakat Indonesia. Padewakang merupakan perahu pendahulu perahu pinisi yang diketahui baru digunakan kurang 150 tahun terakhir, sedangkan padewakang, sudah dikenal sejak 1000 tahun lalu.

Perahu padewakang banyak digunakan oleh pelaut-pelaut Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Mandar) untuk pelayaran jarak jauh. Konon jenis padewakang-lah yang mendominasi armada dagang jarak jauh yang digunakan pelayar-pelayar Nusantara, khususnya dari Makassar dan Mandar dalam perdagangan rempah-rempah. Layar Padewakang memiliki bentuk khas Austronesia seperti yang tergambar pada relief candi Borobudur.

Baca selengkapnya : 

Perahu padewakang yang diboyong ke musium La Boveria Liege Belgia, sebelumnya telah dibangun di Tana Beru Bulukumba selama 2 bulan. Badan kapal sepanjang 12 meter dirakit kembali dalam gedung musium selama 2 minggu oleh 4 orang ahli perahu dari Bulukumba. Properti pendukung seperti layar diproduksi ditanah Mandar. Proyek perahu Padewakang dipimpin dan diarahkan oleh seorang ahli maritim asal Jerman, Horst Liebner. Horst bahkan mengawal Padewakkang ke Liege hingga pengerjaannya rampung dan siap untuk pajangan musium.

Saturday, 14 October 2017

Mengenal Ustad Khalid Basalamah Dalam Bisnis MLM


Saya mengenal ustad Khalid Basalamah akhir tahun 98, ketika seorang teman kebetulan mengundang saya untuk datang dalam sebuah pertemuan. Saya menyanggupi dan tidak mau tahu tujuan pertemuannya. Niatku datang hanya untuk menghargai undangan itu saja.

Sepulang dari kampus, saya pun menyempatkan diri untuk singgah karena kebetulan jalur pulangku memang melewati tempatnya. Sebuah fasilitas ruko depan Mal M-tos Makassar.

Saya kaget ketika masuk dalam ruangan pertemuan yang ternyata sudah dipenuhi perempuan berjilbad besar dan laki-laki bergamis. Bagaimana tidak, rambutku yang masih panjang, pakai kemeja planel dan celana jeans yg belel, membuat saya jelas sekali berbeda dengan semua peserta dalam pertemuan itu. Mendadak saya menjadi makhluk paling aneh di ruangan itu, saya jadi tidak nyaman dan kebingungan, ini pertemuan apa? Diskusi agama? Pengajian? Rapat Lembaga dakwah? Saya betul-betul kaget dan merasa terjebak. Meski begitu, saya tidak berniat meninggalkan ruangan, karena selain menjaga perasaan teman yang mengundang, rasanya tidak etis menjauhkan diri dari sebuah forum Ukhuwah Islamiyah. Begini-begini, saya masih menghargai agamaku. Apa boleh buat, jadilah saya peserta pertemuan itu. Temanku hanya senyum-senyum melihat saya salah tingkah, ditengah manusia bergamis dan berkerudung.

Tidak berapa lama, seorang bertubuh gempal, berjenggot dengan gamis panjang masuk dalam ruangan. Rupanya dia yang ditunggu dalam pertemuan ini. Temanku bilang, itu pemilik tempat ini, namanya Khalid Basalamah, lulusan universitas di Madinah. Orangnya visioner dan ahli dalam bisnis. Dia lagi study S2 di UMI. Mendengar itu, saya malah makin bingung, saya pun balik bertanya, "trus, pertemuan apa ini?"
"Saya mau kau buka wawasanmu dengan bisnis ini, Multi Level Marketing untuk pemasaran produk-produk Islami," jawab temanku.
"Olalaa... MLM..!" dugaanku betul, saya kena jebakan temanku. Ini jenis bisnis yang selama ini tidak pernah bisa kupahami. Dan saya ada dalam pertemuan rencana bisnisnya.

Hampir satu jam saya mengikuti presentase dalam pertemuan itu. Semua presenternya sangat meyakinkan saat menjelaskan tentang berbagai produk Islam yang digunakan berbisnis. Nama perusahaan MLM-nya adalah Ahad Net, sebuah perusahaan marketing yang memasarkan berbagai produk Islami populer berlabel Wardah. Ahad Net pada masa itu merupakan salah satu MLM sukses selain MW dan CNI.

Setelah satu jam yang sangat "menyiksa" itu, nama saya pun dimasukkan dalam daftar member. Jadilah saya member MLM Ahad Net dibawah "line" temanku. Saya pulang dengan beberapa produk jualan dalam tas yang pada akhirnya hanya menjadi konsumsi sendiri. Saya menjadi anggota pasif.

Satu tahun, temanku tetap getol memberi semangat kepada saya untuk aktif di Ahad Net. Hingga pada akhirnya, ia pindah kota dan saya tidak pernah berhubungan lagi.

Belakangan Khalid Basalamah muncul, kini menjadi seorang ustad yang sangat populer. Ia memang pandai berceramah, retorikanya bagus. Ditambah dengan ilmu pengetahuan agamanya yang semakin mumpuni, maka tidak heran ia bisa menjadi ulama papan atas di negeri ini. Salah satu ceramahnya yg saya temukan di internet, adalah ternyata ia sudah menolak bisnis yg pertama kali mengarahkan ia menjadi seorang pendakwah. Ia baru sadar bisnis MLM lebih banyak mudharatnya setelah 9 tahun ia geluti.

Monday, 9 October 2017

ILMUWAN PENIPU TERBESAR DALAM SEJARAH SAINS DI INDONESIA


Indonesia dipertengahan tahun 2015 sempat dihebohkan dengan munculnya seorang ilmuwan muda berbakat bernama Dwi Hartanto. Nama mahasiswa yang tengah menjalani program doktoral di Technische Universiteit (TU) Delft Belanda ini melambung di tanah air ketika ia diberitakan bersama timnya telah merancang bangun Satellite Launch Vehicle. Namanya semakin mengkilap ketika ia juga diketahui termasuk tim inti perancang jet tempur paling canggih generasi ke-6 dan merancang salah satu subsistem embedded flight computer untuk roket Cansat V7s milik DARE (Delft Aerospace Rocket Engineering).

Gencarnya pemberitaan berbagai media tanah air tentang prestasi gemilang Dwi Hartanto dibidang sains internasional membuat Kedutaan besar Republik Indonesia di Belanda menganugrahkan penghargaan tertinggi negara kepadanya. Dwi Hartanto bahkan dianggap sebagai ilmuwan paling berbakat di Asia. Kehebatan prestasi Dwi Hartanto juga sampai menarik perhatian khusus mantan Presiden RI ke-3, BJ Habibie yang rela terbang ke Belanda hanya untuk bertemu dengan dirinya.

2017, nama Dwi Hartanto kembali melambung dan menjadi buah bibir, namun sayangnya, kali ini bukan karena berbagai “prestasi’nya yang dahsyat. Dia malah dikabarkan telah melakukan sebuah penipuan luar biasa dan manipulasi status. Kebohongan Dwi terbongkar oleh seorang ilmuwan yang juga dari Indonesia dan menemukan fakta bahwa Dwi Hartanto telah menipu bangsa Indonesia.

Ilmuwan tersebut adalah Deden Rukmana, seorang Professor dan koordinator Urban Studies and Planning di Savannah State University, Savannah, AS. Deden mengetahui kebohongan Dwi Haryanto ketika ia menerima rangkaian pesan dari WA group Pengurus pelajar internasional yang membahas tentang prestasi Dwi. Pada tanggal 10 September 2017 lalu, salah seorang anggota pengurus I-4 secara terpisah mengirimkan dua dokumen lengkap berisikan investigasi terhadap beragam klaim yang dibuat oleh Dwi Hartanto.

Dokumen pertama terdiri 33 halamam berisikan beragam foto-foto aktivitas Dwi Hartanto termasuk dari halaman Facebook-nya, link ke berbagai website tentang Dwi, transkrip wawancara Dwi dengan Mata Najwa pada bulan October 2016 dan korespondensi email dengan beberapa pihak untuk mengklarifikasi aktivitas yang diklaim oleh Dwi Hartanto.

Dokumen kedua sebanyak 8 halaman berisikan ringkasan investigasi terhadap klaim yang dibuat oleh Dwi Hartanto termasuk latar belakang S1, usia, roket militer, PhD in Aerospace, Professorship in Aerospace, Technical Director di bidang rocket technology and aerospace engineering, interview dengan media international, dan kompetisi riset.

Kedua dokumen tersebut disiapkan oleh beberapa ilmuwan Indonesia di TU Delft yang mengenal Dwi Hartanto secara pribadi. Melalui berbagai dokumen dan jejak digital Dwi, Deden memastikan pembohongan publik yang dilakukan oleh Dwi Hartanto dan menginginkan agar kebohongan ini dihentikan.

Keterlibatan Dwi Hartanto dalam kegiatan Visiting World Class Professor lalu adalah kerugian yang mesti ditanggung oleh pembayar pajak dan seluruh warga Indonesia. Perjalanan akademiknya ke Indonesia dibiayai oleh panitia dan diberikan honor atas aktivitasnya di dalam kegiatan tersebut.

Kebohongan luar biasa yang dilakukan oleh Dwi Hartanto dinilai telah merusak nama baik ilmuwan Indonesia secara umum. Bilamana kebohongan ini berlanjut dan Dwi Hartanto diberikan posisi di bidang Aerospace Engineering yang bukan merupakan keahliannya, tentunya akan sangat membahayakan keselamatan jiwa banyak orang.

Para ilmuwan Indonesia diluar negeri segera membuat kesepakatan tertulis untuk mendesak Dwi Hartanto agar segera mengklarifikasi pengakuannya dengan membuat pernyataan resmi. Dalam surat bermaterai dan permohonan maaf tertanggal Sabtu (7/10/2017), Dwi Hartanto pun menjelaskan status dan posisinya, bahwa ia ternyata tidak lebih hanya dari bagian proyek amatir mahasiswa di kampusnya.

Dalam surat pengakuan bermaterai yang dimuat laman resmi PPI Delft yang berjudul klarifikasi dan permohonan maaf oleh Dwi Hartanto, Dwi mengakui antara lain, "Tidak benar bahwa Bapak B.J. Habibie yang meminta untuk bertemu. Sebelumnya saya telah meminta pihak KBRI Den Haag untuk dipertemukan dengan Bapak B.J. Habibie.

Kabar terakhirnya, semua penghargaan yang diberikan telah dicabut dan Dwi Hartanto harus menghadapi sidang etika di institusinya. Besar kemungkinan ia mendapatkan sanksi profesi.

Hal positif yang ditemui di kasus ini adalah bahwa masyarakat Indonesia saat ini memang sedang haus dengan berita inspiratif tentang warga Indonesia yang berprestasi tinggi di luar negeri.

Namun menurut Deden, “Heboh kebohongan publik yang dilakukan Dwi Hartanto ini terjadi karena pembiaran yang dilakukan pada saat kebohongan publik pertama terjadi akibat berita di Detik.com pada tanggal 12 Juni 2015. Kebohongan ini sudah terjadi lebih dari dua tahun. Pada tanggal tersebut, laman detik.com memuat penuh berita wawancara dengan Dwi Hartanto di Delft, Belanda.

Ketua Dewan Pers Indonesia, Stanley Adi Prasetyo, mengatakan, " Media di Indonesia, saat ini miskin verifikasi. Apalagi ditambah masyarakat suka heboh dan pemerintah yang kerap memuji prestasi para diaspora,”.

Dia menyoroti kerja media yang ikut-ikutan gencar memberitakan prestasi Dwi sebagai ilmuwan Indonesia berprestasi tanpa ada usaha "Cross Check" dan klarifikasi.

“Banyak orang gumunan, suka takjub pada hal-hal yang belum dibuktikan. Di tengah situasi ini, pers mestinya bisa merawat akal sehat publik,” kata Stanley.

Sumber :

Wednesday, 4 October 2017

Kisah Nyata Hancurnya Sebuah Keluarga dalam Hutan Lindung Bulusaraung


Lungga (nama Samaran) tersentak bangun di pagi lembab yang basah. Nafasnya menghembuskan uap sisa panas tubuhnya yang semalam mendekam menjaga kehangatannya. Dari balik rerimbunan pohon, ia melihat Ayah, Ibu dan saudara-saudaranya celingukan dan gelisah. Entah apa gerangan yang membuat pagi temaram yang sunyi ini terasa mencekam. Sebelumnya, Lungga mendengar dentuman keras dari balik hutan. Gemanya membahana menggetarkan tanah dan pepohonan. Keanehan pagi itu yang membuatnya terbangun kaget, gidiknya merinding. Apa kiranya yang ada dibalik sana?

Sebelum Lungga turun dari peraduannya, kembali membahana dentuman… BUMM!!! Kali ini, suaranya lebih menggelegar. Suara pohon-pohon berderak dan gemuruh bebatuan seperti langit yang mau runtuh. Bahananya membuat seisi hutan gempar. Lungga sudah tahu, kejadian ini jelas bukan dari hutan tempat tinggalnya. Ini ancaman serius. Keluarganya panik, bapaknya mulai meraung, menepuk-nepuk dadanya, ibunya memekik, memberi peringatan kepada saudara dan adik-adik kecilnya yang sudah mulai ketakutan. Tangan Lungga yang basah dengan cepat meraih beberapa akar pohon dan segera meluncur turun dari tempatnya, ia panik. Matanya berputar mencari tahu. Semakin panik ia ketika semua tetangganya sudah berhamburan keluar dari huniannya. Dentuman aneh yang menakutkan itu, bunyinya berat, dahsyat dan menakutkan.

Ekor mata Lungga menangkap sosok ayahnya bergerak cepat memanjat sebuah pohon yang tinggi. Sebagai pewaris pelindung keluarga, Lungga menggulingkan tubuhnya kesana kemari menandai area perlindungan untuk keluarganya. Ia yakin keadaan ini berbahaya bagi keluarganya. Ini ancaman serius meski tidak ia pahami sama sekali. Ia berharap ayahnya segera mencari tahu, dan seperti biasa akan diselesaikan secepatnya. Mereka bisa kembali merasa aman.

BUMM…!!!! kembali membahana dentuman keras yang menakutkan itu. Seisi penghuni kawasan tempatnya kini menjerit dengan hebat. Mengerikan karena dentuman itu kini dibarengi hujan batu dan debu tebal yang pekat. Ibu dan semua saudaranya lari ketakutan, menyebar kesegala arah. Ayah Lungga yang sedang berada di puncak pohon terbanting jatuh akibat goncangan hebat yang entah datang darimana. Pohon-pohon besar tumbang saling bertindih, mendebam satu persatu ketanah, mengeluarkan suara mengerikan. Kegaduhan dahsyat yang baru kali ini dialami Lungga seumur hidupnya. Ibu, saudara dan adik-adiknya sudah melarikan diri entah kemana.

Lungga berlari dan melompat menghindari batang-batang pohon besar yang jatuh bergelimpangan disertai hujan batu. Diselimuti rasa takut dan bingung, ia pun memanjat dan mencoba menerobos kabut bercampur hujan debu untuk mencari ayahnya. Ia meraung keras dan ketakutan ketika melihat hutan dibawahnya porak poranda. Dalam kepanikan, ia bergelantungan tak tentu arah, kebingungan, dimana gerangan sang ayah. Ia pun meraung, keras sekali. Namun raungan Lungga ditelan oleh gemuruh batuan runtuh, gemeretak batang pohon tumbang dan jeritan makhluk disekelilingnya. Hutan ini menjadi sangat menakutkan. Hanya nampak debu yang menyesakkan, membutakan matanya. Instink alaminya mengingatkan, ia sudah kehilangan ayahnya.

Belum hilang ketakutannya, muncul suara geraman berat dari arah belakangnya. Samar-samar ditengah pekatnya debu, Lungga melihat sebuah benda besar bertubuh kokoh berjalan pelan mengobrak abrik hutan yang sudah porak poranda. Semua yang ada dihadapannya dilindas dengan mudah. Dibuat remuk. Raungan suaranya berat menakutkan.
Tanpa pikir panjang, Lungga meloncat ke rerimbunan pohon, menyelamatkan dirinya. Dalam kebingungan, tanpa arah, ia terus meloncati batang pohon demi pohon, menjauhi kawasan menakutkan itu. Entah sejauh mana ia masuk kedalam hutan, namun bayangan bebatuan longsor, pohon-pohon tumbang dan debu pekat yang menyesakkan seperti mengikutinya terus. Dentuman dan jeritan terus menerus menggema dikepalanya.

Lungga terhenti dalam sebuah kawasan ceruk batu yang tidak dikenalnya, bersembunyi dalam kegelapan, ia memeluk tubuhnya sendiri, matanya basah oleh air mata, ia sedih dan ketakutan. Dimana ayahnya…? dimana keluarganya….? Apa gerangan yang terjadi dan sangat menakutkan itu..? kenapa bebatuan itu sampai berjatuhan? kenapa pohon-pohon itu tumbang? dalam sekejap Lungga kehilangan segalanya ditengah pagi temaram yang dingin.

(Kisah kehidupan Macaca Maura di hutan lindung kawasan pabrik semen Pangkep - Maros)


Tren Kumis Kids Jaman Now


Suatu waktu saya ditegur seorang teman yang lama baru ketemu.
"Sudah berkumis juga? Ikut tren anak muda yah?" Katanya.
"Maksudmu?" Tanyaku bingung sambil mengusap wajah, meraba kumisku.

Saya memang baru pulang dari luar kota selama beberapa bulan menyelesaikan satu kerjaan disebuah pedalaman. Selama kerja di alam terbuka, untuk bercermin saja tidak sempat apalagi untuk memperhatikan segala macam penampilan. Kumis dan jenggot? Ah, itu wajar, alami. Apa sangkut pautnya dengan tren anak muda?.
Temanku tertawa,
"Ko tidak perhatikan sekarang kah? Lihat baik-baik, kebanyakan orang umur sebaya 30 sampai 50-an, selalu kelihatan klimis. Dan lihat baik-baik, sebagian besar anak muda sekarang, malah ramai-ramai menumbuhkan kumis dan jenggotnya. Terbalik mi jaman Indra", jelas temanku.
"Benar juga", pikirku.
Dia melanjutkan, "Saya pernah antar keponakan ke acara sekolahnya. Sampai di acaranya, saya betul-betul tidak habis pikir melihat semua teman cowok keponakanku itu tampil berkumis, bahkan ada yang berjenggot", katanya sambil tertawa. "Jadi, sekarang ini, kalau mau menaksir umur, perhatikan jenggot dan kumisnya, itu pasti umur 25 tahun kebawah, kalau klimis, bisa dipastikan itu pasti umur 30 atau 35 tahun keatas".
Penjelasan temanku itu bikin saya cuma bisa manggut-manggut, sambil mengusap-usap jenggot.
"Itu makanya ko menuduh saya ikut tren anak muda yah?", Tanyaku sinis.
Dia tertawa terbahak-bahak.

Tak seperti rambut, gaya berkumis memang bisa dikatakan naik turun. Ada masa ia bisa diterima baik bahkan punya tempat terhormat. Namun ada masanya pula ia dilecehkan. Ketika masuk era 2000-an, para selebriti top tiba-tiba mempopulerkan kembali gaya Hippies urakan yang dikenal dengan sebutan "Flower Generation" , dimana kumis dan jenggot menjadi ukuran eksistensi. Seketika pula tren gaya kumis melambung dan langsung populer di kalangan anak muda di seluruh dunia. Tidak berkumis, tidak gaul.

Di Indonesia, kumis sempat punya masa jaya di era tahun 70-an hingga 80-an. Penyebabnya karena aktor masa lalu muncul dengan kumis yang mentereng. Mulai dari Roy Marten dengan kumis tipisnya hingga pemilik kumis tebal macam Slamet Rahardjo, Shopan shopian, Benyamin dan lainnya. Terakhir sosok gagah berani Brama Kumbara yang muncul di film Saur Sepuh membuat pamor kumis makin menanjak.

Namun kepopuleran kumis memudar memasuki dekade 90-an. Hanya guru-guru sekolah yang kaku dan preman kampung norak yang tetap berusaha mempertahankan penggunaan dan filosofi kumis. Aksi Rano Karno berkumis tebal di sinetron laris Si Doel Anak Sekolahan pun tak berhasil mengangkat citra pria berkumis.

Tren kumis mendapatkan kembali momentumnya di akhir 2013 ketika selebriti Hollywood yang masuk daftar pria terseksi seperti Jhonny Depp dan Adam Levine memilih tampil dengan kumis. Sejak itu, kumis pun kembali mendapat tempat untuk berjaya dalam peradaban modern ini.

Jaman now, tidak berkumis, jelas tidak gaul.

Sumber : yomamen.com

Thursday, 28 September 2017

Melestarikan Hutan, Padi pun Tumbuh diatas Bebatuan


Berada di balik gunung Silanu yang berjarak sekitar 5 kilometer arah timur kecamatan Bangkala kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, terdapat dusun-dusun kecil tradisional yang mendiami wilayah tapal batas hutan pada ketinggian sekitar 800 mdpl. Statusnya yang berada dalam kawasan hutan lindung secara tidak langsung menjadikan dusun-dusun kecil itu dikenal sebagai penjaga dan pelestari hutan. Di wilayah inilah dikenal warga desa yang sangat keras menjaga hutannya, bahkan menjadi tradisi turun temurun.

Bersama dengan Baso Daeng Situju, seorang warga desa yang dipercaya sebagai penyuluh oleh Kementerian Kehutanan, saya memasuki kawasan hutan gunung Silanu saat sinar matahari pagi masih sedikit membias dibalik pegunungan Silanu. Dipucuk rerimbunan pohon, gelungan halimun tipis berkelindan pelan menebar hawa pegunungan dingin nan sejuk. Pemandangan alamnya yang hijau segar membuat perjalanan kami jadi menyenangkan, selain kontur medannya ringan, jalur tracking pun relatif mudah dan aman.

Karakter hutan lindung gunung Silanu tidak begitu lebat, kebanyakan pohonnya masih tergolong muda namun rimbun dan asri. Vegetasinya bervariasi dan semuanya tumbuh subur. Dalam perjalanan, saya mengambil banyak gambar untuk merekam suasana pagi dalam hutan. Pemandangan hijau ditimpa cahaya pagi yang kemerahan bukan hal yang biasa bagiku dan momen langka seperti itu tidak mungkin kuabaikan.

Pendakian sudah tidak begitu terjal ketika kami melewati sebuah jalan setapak dipadati pohon jati putih besar berjejer dikiri kanannya. Barisan pepohonannya teratur rapi hingga menghampar luas ke ujung lereng pegunungan. Menurut pak Baso, kawasan pohon jati putih ini yang paling ketat dijaga oleh warga desa lantaran seringnya terjadi penebangan liar oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.


Sekitar dua jam menelusuri kawasan hutan jati putih yang rimbun, kami pun tiba di sebuah pedataran hijau yang permai. Terdapat susunan rapi bebatuan gunung berupa pagar pembatas, berderet memanjang ditiap sisi jalan yang kami lalui. Disampingnya, ada sungai kecil dengan air bening yang mengalir pelan. Hawa sejuk merebak leluasa seiring sinar matahari mulai menembus celah-celah rerimbunan. Tidak lama berjalan, saya dan pak Baso tiba disebuah perkampungan yang teduh dikelilingi sungai kecil. Dari balik pepohonan yang rimbun, nampak rumah-rumah kayu sederhana, berbaris rapi dengan halamannya yang bersih. "Ini dusun Ura-urayya, dusun terbaik dalam kawasan hutan ini," jelas pak Baso.

Dusun Ura-urayya terdiri dari 73 KK yang hidup dengan tenang dan damai dalam hutan lindung gunung Silanu. Mereka bisa berkebun dengan baik tanpa harus menebang dan merusak hutan hanya untuk membuka lahan semata. Justru mereka malah memanfaatkan lingkungan hutan sebagai pendukung berbagai jenis tanaman berbudi daya tinggi. Pola tradisional yang diterapkan secara turun temurun menghasilkan tanaman yang subur dan memberikan hasil yang terbaik.

Ada beberapa dusun di tapal batas hutan lindung gunung Silanu antara lain Silayara, Kalimbungan, Parang La’bua, Bangkeng Ongko dan Ura-urayya. Semua warganya sangat menjaga kelestarian hutan turun temurun karena menjadi tempat memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk mengarahkan pengelolaan hutan dengan baik, maka pihak pemerintah setempat secara bertahap kemudian mengembangkan program hutan kemasyarakatan dan memberikan pembinaan khusus bagi setiap warga dikawasan hutan tersebut.

Program hutan kemasyarakatan direspon dengan baik oleh warga dusun batas hutan karena sebelumnya, mereka telah menerapkannya secara alami melalui konsep tradisional. Sejak adanya pembinaan, hampir seluruh kawasan hutan telah dipenuhi dengan berbagai jenis tanaman budi daya jangka panjang.

Lestarinya hutan di kawasan hutan lindung Bangkala ini membuat lingkungan alamnya menjadi sangat subur. Berbagai jenis eksperimen tanaman budi daya bisa dikembangkan dengan leluasa. Di kawasan hutan inilah tanaman padi organik yang dikenal dengan nama padi Gogo bisa tumbuh dengan baik.  Di dusun Ura-urayya sendiri, padi Gogo tumbuh subur menghampar dibawah setiap pepohonan tanpa irigasi. Uniknya, padi Gogo itu bahkan tumbuh subur dipermukaan bebatuan, bulir padinya kelihatan sehat menguning layaknya padi dengan sistem penanaman yang konvensional. Menurut kepala Dusunnya, Abd. Karim Dg Beta, puluhan petak sawah padi Gogo panen secara bergiliran tiap berapa bulan.

Dia menjelaskan bahwa beberapa jenis tanaman yang ditanam dengan pola serupa juga telah berhasil dan menunggu untuk segera dipanen. Limbahnya pun sangat baik untuk makanan ternak. Pak Baso Dg Situju mengakui bahwa berbagai jenis tanaman sudah di eksperimen dan dikembangkan dengan baik oleh warga setempat. Bahkan pakan ternak pun bisa diproduksi dengan cara alami sehingga bisa menghemat biaya dan menghasilkan pendapatan yang besar bagi masyarakat. Ia berharap pemerintah bisa meningkatkan dukungan terhadap program ini, antara lain penyaluran bibit secara kontiniu dan penyediaan alokasi anggaran serba guna.

Pelestarian hutan yang direalisasikan oleh warga dusun tapal batas hutan gunung Silanu, berbanding terbalik dengan kondisi saat ini dimana kawasan hutan pada umumnya telah dijarah habis-habisan untuk berbagai kepentingan. Didukung pemerintah setempat, warga dikawasan hutan lindung gunung Silanu sangat ketat menjaga alam dengan segenap jiwanya. Mereka sadar, penjarahan hutan dan perusakan alam tidak saja membunuh generasi mereka namun bisa mendatangkan bencana yang lebih besar dampaknya terhadap kelangsungan hidup lainnya.

SIAPA GUBERNUR SULSEL 2018 - 2023 PILIHAN ANDA?

 
Copyright © 2014 Sulawesi Diari. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates